Pensiun Politik, Mantan Elit PAN Kini Sibuk Urusi Hutan

Dradjad Wibowo istirahat dari politik usai Kongres PAN di Bali.

Senin, 8 Juni 2015 | 23:00 WIB

Oleh : Amal Nur Ngazis, Agus Rahmat

Juni 11

Dradjad H Wibowo (kiri) (ANTARA)

VIVA.co.id - Nama Dradjad H Wibowo belakangan tak terdengar lagi di panggung politik Indonesia. Padahal, ia sempat menduduki posisi strategis di Partai Amanat Nasional sebagai Wakil Ketua Umum DPP. Saat itu, Hatta Radjasa adalah Ketua Umumnya.

Pada Pilpres 2014, Dradjad juga terlibat aktif adalam tim kampanye Prabowo-Hatta. Cetak biru perekonomian nasional untuk kandidat ini, dipercayakan disusun oleh Dradjad.

Walau Prabowo-Hatta kalah dari pasangan Jokowi-JK, Dradjad masih berkecimpung di dunia politik. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga aktif mendorong lagi Hatta untuk memimpin PAN pada periode kedua.

Tapi sayang, Hatta dikandaskan pesaingnya, Zulkifli Hasan (Ketua MPR), pada Kongres PAN di Bali awal 2015 ini. Pasca itu, Dradjad memproklamirkan dirinya untuk mundur dari pentas politik.

APRIL, APP Get Forest Certification from PEFC

By Muhamad Al Azharion 05:34 pm Jun 08, 2015

CategoryBusiness,Front Page,Sustainability

Tags:Asia Pacific Resources International,Asia Pulp & Paper,Indonesian Forest Certification Co-Operation,Programme for the Endorsement of Forest Certification

 Juni 14

Global environmental non-government organizations have recently welcomed the changing stance of major Indonesian companies to sustainability. (JG Photo/Afriadi Hikmal)

Jakarta.Two major pulp and paper companies in Indonesia — Asia Pacific Resources International, or APRIL, and Asia Pulp & Paper, or APP — have received sustainable forest management certification from the world’s leading forest certification system. This achievement helps both companies to tap into new markets and better convince customers of the sustainability of their operations.

The two companies received the nod from the Program for the Endorsement of Forest Certification (PEFC), which accounts for two thirds of the total forests that are certified under globally certified schemes. The certification ensures international consumers that the wood-related products they buy are sourced from plantations that have been independently verified as sustainably managed in accordance to PEFC’s sustainability benchmarks.

“Most of the forest certification to date has occurred in Europe and North America. The addition of Indonesia to the 36 national forest certification systems means that more and more area in Asia can be certified from now on,” Ben Gunneberg, the CEO and secretary general of the Geneva-based PEFC, said in a statement on Monday.

Keberlanjutan Pembangunan Harus Berkeadilan dan Menjaga Lingkungan

Senin, 08 Juni 2015 , 22:00:00

JAKARTA -Mantan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini memimpin Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFFC) menyatakan bahwa pembangunan yang dilakukan harus berkelanjutan dengan tetap menjamin keadilan dan menjaga lingkungan. Melalui Sustainable Development Indonesia (SDI) yang fokus pada kahian dan implementasi pembangunan berkelanjutan, Dradjad menyodorkan dua topik yang harus mendapat perhatian serius.

“Dua komponen utama pembangunan berkelanjutan adalah keadilan intra-generasi dan keadilan antar-generasi. Ini menjadi topik utama SDI,” kata Dradjad dalam acara inagurasi dan presentasiSustainable Forest Management Certificatedi Jakarta, Senin (8/6).

Dradjad menuturkan, IFFC yang didirikan pada 9 September 2011 memfokuskan diri pada pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management/SFM). Menurutnya, Indonesia semakin mendapat tekanan global karena dianggap gagal mengatasi pembalakan liar (illegal logging) dan perdagangan hasil hutan ilegal (ilegal trade).

Juni 13

Chairman Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFFC) Dradjad H Wibowo

“IFCC ini didirikan untuk mendorong penerapan SFM di Indonesia, mengingat pengelolaan hutan Indonesia dinilai dunia jauh dari kaidah-kaidah kelestarian. Pelaku usaha bidang kehutanan dan industri pengolahan hasil hutan pun terkena imbasnya. Mereka semakin sulit menjual produknya ke pasar dunia, kecuali mereka bisa membuktikan bahwa produknya berasal dari hutan yang dikelola mengikuti SFM,” papar bekas anggota DPR yang juga dikenal sebagai ekonom itu.

Karenanya Dradjad mengingatkan pentingnya sertifikasi SFM dan sertifikat lacak balak (chain of custody/CoC). Dengan kedua jenis sertifikat ini, lanjutnya, pelaku usaha bisa membuktikan kepada konsumen global bahwa dari hulu hingga hilir, produknya berasal dari hutan yang dikelola dengan mementingkan kelestarian.

“Karena itu, salah satu alasan pendirian IFCC adalah untuk menjawab keluhan dan kebutuhan dunia usaha, yang ekspornya terancam karena belum mempunyai sertifikat di atas,” tuturnya.

Source:

http://www.jpnn.com/read/2015/06/08/308505/Keberlanjutan-Pembangunan-Harus-Berkeadilan-dan-Menjaga-Lingkungan

Rehat dari Hiruk Pikuk Politik, Drajad Wibowo Fokus di Kehutanan

Juni 10

JAKARTA, SOROTnews.com: Selesai menjabat Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Drajad H Wibowo kini mengalihkan perhatianya pada dunia kehutanan. Bagi politisi yang pensiun dari DPR sejak 2009 ini, hutan bukanlah wilayah yang asing baginya.

"Ya, sekarang istirahat dulu dari politik, dan kebetulan saya saat di percaya sebagai ketua umum IFCC yang sudah ada sejak 2011. Kerjanya ya bareng-bareng membenahi pelestarian hutan Indonesia," ujarnya kepada wartawan di Hotel Indonesia, Senin (8/6/2015).

Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) merupakan bidang Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management – SFM) dengan fokus pada sertifikasi SFM.

"Jadi seusai Kongres PAN di Bali, saya istirahat dari politik praktis, sehingga mempunyai waktu lebih untuk menggenjot kinerja IFCC. Apalagi, IFCC menargetkan minimal 1 juta hektar areal Hutan Tanaman Industri (HTI) bisa memperoleh sertifikat PEFC pada tahun 2015," tambahnya.

Hutan tak Disertifikasi, Nilai Ekspor Rp 65 Triliun Terancam Hilang

8 Juni, 2015 - 17:31

Juni 9

AMALIYA/PRLM

KETUA Umum Indonesia Forestry Certification Cooperation (IFCC), Dradjad H. Wibowo, saat jumpa pers penyerahan sertifikat PEFC/‎IFCC di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2015).

JAKARTA, (PRLM).-‎Indonesia terancam kehilangan nilai ekspor sampai Rp 65 triliun per tahun karena tidak tersertifikasinya hutan sebagai syarat ekspor yang ditetapkan sejumlah negara. Angka ekspor yang dipastikan hilang yakni Rp 15 triliun - 20 triliun per tahun.

"Pengelolaan hutan Indonesia dinilai dunia jauh dari kaidah-kaidah kelestarian. Indonesia semakin mendapat tekanan global karena dianggap gagal mengatasi pembalakan liar dan perdagangan hasil hutan ilegal," ujar Ketua Umum Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC), Dradjad H. Wibowo, dalam penyerahan sertifikat PEFC/IFCC di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2015).

Ko‎ndisi tersebut berimbas kepada pelaku usaha di bidang kehutanan dan industri pengolahan hasil hutan. Mereka kesulitan menjual produknya ke pasar dunia kecuali bisa membuktikan produknya berasal dari hutan yang dikelola melalui sustainable forest management (SFM/pengelolaan hutan lestari).

Ekspor bubur kertas dan kertas (pulp and papers) misalnya, nilai ekspornya pada 2013 yakni 4,28 miliar dolar Amerika. Pada 2014 nilai ekspornya naik menjadi lebih dari 5 miliar dolar Amerika.