PEFC at Asia-Pacific Forestry Week 2019

PEFC will travel to Incheon, Republic of Korea, for APFW2019, held between 17-21 June 2019.
Reflecting the positive dimensions of forestry, “Forests for peace and well-being” is the overall theme of this influential event.

Ben, CEO of PEFC, will speak about forests for peace and well-being at the opening plenary session on Tuesday 18 June. You can also find the PEFC team at Booth 35-36 - come and visit us!

 

See the full article here: https://pefc.org/events-training/asia-pacific-forestry-week

 

IFCC is very excited to taking part in this event! Stay tune on our website and social media for further info! :)

 

Website: www.ifcc-ksk.org
Instagram: @ifcc.ksk
Twitter: @IFCC_KSK
Facebook: Ifcc Certification
FB Fanpage: IFCC KSK
YouTube: IFCC KSK

#PEFC #IFCCKSK #APFW 

PERPANJANGAN PENGUMUMAN PUBLIK-REVIEW/REVISI STANDAR IFCC (2)

Pengumuman publik ini diperpanjang hingga 21 Juni 2019

 

PENGUMUMAN PUBLIK

DIMULAINYA PROSES REVIEW/REVISI STANDAR

INDONESIAN FORESTRY CERTIFICATION COOPERATION (IFCC)

Kepada Yth.

Bapak / Ibu

Stakeholder IFCC

di

      Tempat

Dengan hormat,

Kami dari Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC), sebuah lembaga pengembang standar (National Governing Body-NGB) sertifikasi pengelolaan hutan lestari di Indonesia yang telah mendapatkan endorsement dari Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) Council pada tanggal 1 Oktober 2014.   

Setelah lima tahun penerapan standar Pengelolaan Hutan Lestari IFCC, sesuai dengan prosedur penyusunan standar IFCC PD 1001: Prosedur Penyusunan Standar (Lampiran 1) dan PEFC ST 1001: Standard Setting – Requirements, serta keputusan Rapat Umum Anggota Khusus (RUAK) IFCC pada Oktober 2018, saat ini kami akan melakukan review / revisi atas standar tersebut.  Lingkup kegiatan review / revisi ini difokuskan pada review / revisi standar sertifikasi pengelolaan hutan lestari IFCC beserta dokumen-dokumen prosedur lainnya.  Keseluruhan proses atas kegiatan review / revisi standar ini disusun dalam Rancangan Kegiatan Review / Revisi Standar Sertifikasi IFCC (Lampiran 2).

Sesuai dengan IFCC PD 1001: Prosedur Penyusunan Standar (Lampiran 1), penyusunan standar baru maupun revisi standar dilakukan melalui konsensus dari para pemangku kepentingan yang direpresentatifkan dalam Komite Standardisasi (KS) IFCC.  

Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, kami membuka kesempatan kepada Bapak / Ibu untuk dapat berpartisipasi dalam proses review / revisi standar ini dengan memberikan komentar dan / atau saran atas dokumen Prosedur Penyusunan Standar IFCC dan Rancangan Kegiatan Review / Revisi Standar Sertifikasi IFCC yang dapat disampaikan melalui formulir yang sudah kami sediakan pada Lampiran 3. Kami juga bermaksud untuk mengundang perwakilan dari organisasi / instansi Bapak / Ibu sebagai Nominasi KS IFCC yang kemudian akan kami sampaikan kepada tim seleksi Nominasi KS IFCC. Pengajuan atas perwakilan organisasi / instansi Bapak / Ibu dapat disampaikan melalui formulir yang sudah kami sediakan pada Lampiran 4.

Formulir-formulir tersebut dapat dikirimkan paling lambat tanggal 10 Juni 2019 melalui Fax. ke nomor (021) 87961780, atau email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., atau melalui pos ke alamat Sekretariat IFCC: Plaza Amsterdam Blok D56, Sentul City, Bogor, Indonesia.

Demikian kami sampaikan.  Atas perhatian dan kerjasama Bapak / Ibu, kami menghaturkan terima kasih.

Salam Hutan Lestari

Lampiran:
Lampiran 1. IFCC PD 1001: Prosedur Penyusunan Standar

Lampiran 2. Rancangan Kegiatan Review / Revisi Standar Sertifikasi IFCC

Lampiran 3. Lembar Komentar & Saran

Lampiran 4. Aplikasi Nominasi KS IFCC

SUSTAINABLE FASHION

Oleh Nurcahyo Adi

Pernah nonton film komedi Flintstone? Film yang dibintangi antara lain oleh John Goodman tesebut adalah film komedi yang menceritakan kehidupan manusia jaman batu. Di dalamnya digambarkan orang-orang yang masih menggunakan pakaian alami yang belum banyak diolah, dari kulit hewan dan kulit kayu.

Ketika melihat berbagai buku cerita dan gambar tentang orang jaman dulu, atau film tentang manusia purba, sering digambarkan bahwa manusia jaman dulu itu mengenakan baju/pakaian dari bahan alami, antara lain dari kulit kayu. Pakaiannya digambarkan secara fisik mirip dengan kulit kayu, terlihat masih kaku, asli, tampak serat dan gambar kayunya, serta sangat mudah dikenali bahwa bahan penutup badan tersebut berasal dari kulit kayu.

Dalam perkembangannya, ketika manusia berubah lebih maju dan mempunyai pengetahuan untuk mengenali serat kain dari bahan lainnya, penutup badan dari kayu mulai ditinggalkan. Kain pembuat pakaian kemudian banyak dibuat dari serat kapas atau katun, dan belakangan banyak dibuat dari serat sintetis dan bahan lainnya melalui proses inovasi teknologi yang mutakhir.

Dalam tahun-tahun belakangan, beberapa organisasi mulai melakukan penelitian dan pengembangan bahan baku yang lebih sustainable (renewable) dan lebih ramah lingkungan sebagai bahan pembuat kain dari kayu/pohon. Hutan dengan pohon-pohonnya dilirik kembali oleh sektor industri ini sebagai sumber renewable material untuk pembuatan kain, yang digunakan tidak hanya dari kulitnya, tapi juga diekstrak dari serat kayu yang terkandung di dalam pohon. Berbagai upaya promosi juga sudah dilakukan oleh berbagai lembaga dan negara di dunia untuk membuat kain dari kayu/pohon tersebut.

Pada acara pertemuan PEFC (sebuah lembaga nir laba yang mempromosikan kelestarian lingkungan/hutan berkantor pusat di Geneva, Swiss), setiap tahunnya selalu terdapat sesi sharing berbagai inovasi yang sudah dilakukan oleh masing-masing negara.

Tahun ini, wakil dari Italy menampilkan kain dan pakaian jadi ramah lingkungan yang terbuat dari serat kayu. Serat-serat kayu tersebut dipromosikan berasal dari pohon dalam hutan yang telah bersertifikat dikelola secara lestari. Berbagai merek dunia yang terkenal sudah menggunakan kain yang berbahan dari kayu tersebut. Tidak saja berbentuk kain, tetapi juga yang sudah diolah lebih lanjut menjadi kaos, T-shirt, jaket, celana panjang dan lain-lain.
Baju/pakaian tersebut kemudian dikategorikan dalam kelompok yang disebut sebagai sustainable fashion.