APRIL Group Bidik Perluasan Pasar Ekspor

Selasa, 09 Juni 2015 Penulis: MI/Nur Imam Jayabuana

Juni 19

ANTARA/M. Agung Rajasa

Setelah memperkuat kebijakan pengelolaan hutan lestari dan meraihprogramme for the endorsement of forest certification (PEFC), Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group optimistis bisa membuka pasar baru dan menyumbang devisa ekspor lebih besar bagi negara.

Managing Director APRIL Indonesia Operation Tony Wenas menyatakan saat ini APRIL Group mengekspor produknya ke 75 negara.

"Dengan kebijakan pengelolaan hutan lestari dan investasi baru bagi hilirisasi produk kertas, kami optimistis bisa memperluas negara tujuan ekspor menjadi 85 negara," kata dia seusai menerima seritifikat PEFC di Jakarta, kemarin.

Pemerintah Dukung Sertifikasi Hutan Lestari

Senin, 08 Juni 2015 | 15:33

Juni 17

Ilustrasi hutan. (greentravelers.wordpress.com.)

Jakarta - Pemerintah RI mendukung sepenuhnya keberadaan lembaga independen untuk melaksanakan sertifikasi pembangunan berkelanjutan di bidang kehutanan. Salah satunya melalui Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC).

Hal itu disampaikan Chairman IFCC, Dradjad H.Wibowo, Senin (8/6), di Jakarta. Menurut Dradjad, komunikasi antara pihaknya dengan Pemerintah RI terkait sertifikasi Hutan Lestari sudah dilaksanakan sejak bertahun-tahun lalu. Semua pihak sepakat sama-sama memiliki perhatian untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan di sektor kehutanan yang berarti sama-sama mengingkan kelestarian hutan berlanjut.

"Komunikasi dengan menteri sudah jalan. Kalau dengan Menteri Kehutanan sebelumnya, Bang Zulkifli Hasan, tentu saja terjadi. Dukungan politik dan komitmen Pemerintah jelas ada, bahkan sangat kuat. Kalau menteri yang sekarang, Bu Siti Nurbaya, kami sudah berjanji akan ketemu suatu saat," jelas Dradjad.

KEHUTANAN IFFC: Ekspor produk kehutanan bisa naik US$ 1,5 M

Juni 16

JAKARTA.  Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFFC) menyatakan, Indonesia berpotensi menaikkan ekspor produk kehutanan US$ 1 miliar-US$ 1,5 miliar dari saat ini yang sekitar US$ 5 miliar sehingga menjadi US$ 6-6,5 miliar per tahun.

ChairmanIFCC Dradjad H Wibowo mengatakan, saat ini sekitar 44% dari ekspor produk kehutanan Indonesia disumbang dari produk bubur kayu dan kertas. "Dengan disertifikasinya produk tersebut dengan skema PEFC tentu akan berkontribusi positif pada peningkatan ekspor," katanya dalam penganugerahan sertifikat Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) kepada perusahaan bubur kertas (pulp) dan kertas Indonesia.

Menurut Dradjad, permintaan produk bersertifikat secara global juga terus meningkat, terutama di Asia dan Australia, selain yang secara tradisional telah menuntut sejak lama yaitu Eropa dan Amerika Utara. Dia berharap dengan sertifikat PEFC/IFCC pengelolaan hutan lestari di Indonesia bisa tercapai dan permintaan pasar terpenuhi.

"Ekspor hasil hutan bisa meningkat, lapangan kerja terbuka, dan secara keseluruhan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," katanya.

Sementara itu APRIL group, salah satu perusahaan yang menerima sertifikat tersebut, menyatakan optimistis mampu membuka pasar baru dan menyumbang devisa ekspor lebih besar bagi negara.

Managing DirectorAPRIL Indonesia Operation Tony Wenas menyatakan saat ini APRIL grup mengekspor produknya ke 75 negara. "Dengan kebijakan pengelolaan hutan lestari dan investasi baru untuk hilirisasi produk kertas, kami optimis bisa memperluas negara tujuan ekspor menjadi 85 negara," katanya usai menerima sertifikat PEFC.

Pensiun dari Politik, Dradjad Beralih Mengurus Sertifikasi Hutan Tanaman Industri

Penulis: Jay Waluyo - Editor: Jurnal Parlemen

Senin, 8 Juni 2015 10:40:16

Juni 12

Setelah pensiun dari DPR tahun 2009, politisi PAN Dradjad Hari Wibowo kembali menekuni pembangunan berkelanjutan. Sebagai wadahnya, ia mendirikan Sustainable Development Indonesia (SDI).

Jakarta - Setelah pensiun dari DPR tahun 2009, politisi PAN Dradjad Hari Wibowo kembali menekuni pembangunan berkelanjutan. Sebagai wadahnya, ia mendirikan Sustainable Development Indonesia (SDI), dengan fokus pada kajian dan implementasi sustainable development (SD).

Dua komponen utama SD, yaitu keadilan intra-generasi dan keadilan antar-generasi, menjadi topik utama SDI. Isu keadilan sosial (social justice) yang sering memicu pemberontakan saat ia sejak remaja, masuk di dalam komponen keadilan intra-generasi. Yaitu, keadilan antar kelompok masyarakat dalam sebuah generasi.

"Pada tanggal 9 September 2011, saya melalui SDI mendirikan IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation) bersama beberapa teman. IFCC bergerak di bidang Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management - SFM) dengan fokus pada sertifikasi SFM," ujar Ketua Umum IFCC Dradjad Wibowo di sela-sela penyerahan sertifikat pengelolaan hutan lestari PEFC/IFCC kepada groups Sinarnas Forestry (SMF)/ APP dan APRL, diKempiski Hotel Indonesia, Senin (8/6).

SKEMA HUTAN PEFC Berikan Sertifikat pada APRIL

OlehRED8 Juni 2015 06:28 WIB

JAKARTA (SK) – Pertama kali perusahaan pulp Indonesia menerima sertifikat pengelolaan hutan ‘sustainable’. Produsen pulp (bubur kayu) dan kertas APRIL grup dilaporkan telah memperoleh sertifikat yang pertama di Indonesia untuk pengelolaan hutan berkelanjutan PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification). Hal itu diungkapkan Lembaga penyedia informasi produk kayu, RISI mengutip laman resmi PEFC dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6) di Jakarta.

Menurut RISI hal itu berarti APRIL grup adalah yang pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat tersebut pada Desember 2014. PEFC adalah sebuah skema sertifikasi hutan terbesar di dunia yang mana lebih dari 264 juta hektare hutan dan 15.804 perusahaan telah disertifikasi PEFC.

Di Indonesia, PEFC meng-endorse skema sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan dan lacak balak IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation). Namun demikian dalam pengumumannya, tidak dinyatakan luas konsesi APRIL grup yang mendapat sertifikat PEFC.

Menurut RISI, pengakuan pengelolaan hutan lestari APRIL grup oleh PEFC dilansir tak lama setelah kelompok usaha tersebut baru saja mengumumkan penguatan kebijakan pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management Policy), yang melibatkan sejumlah LSM termasuk WWF dan Greenpeace sebagai pemantau.

Kebijakan itu juga mendapat apresiasi pemerintah yang mana Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya melalui Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari IB Putera Parthama yang menilai, komitmen kelompok APRIL untuk menghilangkan kegiatan deforestasi dari rantai pasoknya. (sab)

 

Source: http://www.suarakarya.id/2015/06/08/pefc-berikan-sertifikat-pada-april.html