TPL kantongi sertifikat COC PEFC buktikan keberlanjutan

Komisaris Utama PT TPL Ignatius Ari Djoko Purnomo (kedua kiri), dan Mill VLK & Lab. QA/QC Head, Sri Nurhayati (kiri)Komisaris Utama PT TPL Ignatius Ari Djoko Purnomo (kedua kiri), dan Mill VLK & Lab. QA/QC Head, Sri Nurhayati (kiri), menerima sertifikat CoC PEFC dari Presiden Direktur SGS Indonesia Shashibhusha Jogani (kedua kanan), didampingi oleh Manajer Bisnis

Tobasamosir (Antaranews Sumut) - PT Toba Pulp Lestari sebagai perusahaan penghasil bubur kayu secara resmi mendapatkan sertifikat 'Chain of Custody Program for Endorsement Forest Certification' dari lembaga sertifikasi 'societe generale de surveillance Indonesia', sebagi bukti pengelolaan berkelanjutan atas bahan baku yang berasal sumber-sumber yang transparan.

"Sertifikat ini menjadi tonggak sejarah kedua bagi PT TPL dalam menjalankan operasionalnya," ujar Direksi PT TPL, Mulia Nauli, dalam rilis pers yang diterima Antara, Rabu.

Disebutkan, untuk awal tahun 2018, sertifikat tersebut menjadi sertifikat kedua yang diterima pihaknya setelah sebelumnya juga telah mendapatkan sertifikat 'Indonesian Forestry Certification Cooperation' dari lembaga sertifikasi 'Bureau Veritas Indonesia'.

"Keberadaan sertifikat ini adalah bukti dan kepastian pengelolaan hasil hutan tanaman industri yang bekelanjutan, serta kayu hasil panen, sejak awal hingga masuk ke proses produksi menjadi produk bubur kayu yang berasal dari sumber-sumber yang dapat ditelusuri secara transparan dan berkelanjutan," terangnya.

Dijelaskan, keberadaan sertifikat sebagai bentuk pengakuan dari lembaga penguji internasional atas hasil produk PT TPL, tentunya akan berpengaruh positif bagi pasar atau konsumen produk.

Kata Mulia, sertifikat CoC PEFC diserahkan oleh Presiden Direktur SGS Indonesia Shashibhushan Jogani, yang didampingi Manajer Bisnis CBE SGS Indonesia, Johnny A. Koe, dan diterima langsung oleh Komisaris Utama PT TPL, Ignatius Ari Djoko Purnomo, dan Mill VLK & Lab. QA/QC Head PT TPL, Sri Nurhayati pada Senin, 26 Maret 2018, di Jakarta.

"Sertifikat tersebut menjadi jaminan atas sumber bahan baku yang masuk ke pabrik, serta kepastian bahwa produk bubur kayu PT TPL bersumber dari hutan-hutan yang dikelola secara berkelanjutan dan menggunakan bahan-bahan yang diawasi," terangnya.

Selain itu, sertifikasi tersebut juga memastikan bahwa hutan-hutan dikelola dengan mengutamakan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Hal ini menjadi sebuah mekanisme yang terverifikasi untuk melacak kayu dari proses pemasokan hingga barang jadi.

Pewarta : Rinto Aritonang
Editor: Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Source: sumut.antaranews.com

TPL Terima Sertifikat IFCC

Senior Vi­ce President South East Asia-Pacific BV, Serge  Antonini (kedua kiri) dan I&F Country Chief Executive BVI Lontung Simamora (kiri), kepada Komisaris Utama PT TPL, Ig­natius Ari Djoko Purnomo (kanan) dan Direksi PT TPL Mulia Nauli (kedua kanan).(Analisa/istimewa) SERAHKAN: Sertifikat IFCC diserahkan oleh Senior Vi­ce President South East Asia-Pacific BV, Serge Antonini (kedua kiri) dan I&F Country Chief Executive BVI Lontung Simamora (kiri), kepada Komisaris Utama PT TPL, Ig­natius Ari Djoko Purnomo (kanan) dan Direksi PT TPL Mulia Nauli (kedua kanan).

Medan, (Analisa). PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL), perusahaan penghasil bubur kertas, menerima sertifikat IFCC (Indonesian Fo­restry Certification Cooperation) dari lembaga sertifikasi Bureau Veritas Indonesia (BVI), baru-baru ini, di Jakarta.

Sertifikat IFCC ini membuktikan pengelolalan hutan tanaman industri (HTI) yang berkelanjutan memberikan jaminan kepada para konsumen di seluruh dunia bahwa PT TPL memberikan produk ha­sil hutan yang dikelola secara berkelanjutan.

“Sertifikat IFCC ini menjadi tonggak sejarah bagi PT TPL dalam men­jalankan operasionalnya yang berkelan­jutan, khususnya dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri/HTI. Sertifikat IFCC ini juga mem­buktikan bahwa produk PT dari penerapan pengelolaan hutan les­tari di In­donesia,” ujar Direksi PT TPL, Mulia Nauli dalam sia­­­ran pers yang diterima Analisa, Kamis (1/2).

Mulia Nauli menambahkan, sertifikat IFCC berpengaruh positif memperluas pasar bagi produk PT TPL di dunia. “Kami mengu­capkan selamat terhadap pencapaian tertinggi PT TPL dalam menjalankan opersionalnya secara keber­lanjutan bagi semua pemangku kepentingannya,” ujar I&F Country Chief Executive BVI, Lontung Simamora.

Serah terima sertifikat IFCC diserahkan oleh Senior Vice Pre­sident South East Asia-Pacific BV, Serge Antonini dan I&F Country Chief Executive BVI, Lontung Sima­mora, kepada Ko­misaris Utama PT TPL, Ignatius Ari Djoko Purnomo, Direksi PT TPL, Mulia Nauli, dan Ma­najer Lingkungan Fiber PT TPL Mangasi Sianipar.

Dengan didapatnya sertifikasi IFCC ini, menunjukkan bahwa TPL melakukan kegiatan operasional dengan mem­per­tim­bangkan aspek produksi yang ramah, memerhatikan aspek eko­logi dan lingkungan sekitarnya serta sinergi dengan masyarakat sebagai implementasi aspek sosial da­lam melakukan pengelolaan hutan secara lestari, seim­bang, dan berkelanjutan.

Sebelumnya, PT. TPL meraih penghargaan level lima atau level ter­tinggi Green Industry Awards (Penghargaan Industri Hijau) dari Ke­menterian Perindustrian. Peng­hargaan ini sebagai bentuk apresiasi serta motivasi pe­me­rintah kepada manufaktur dalam negeri yang telah menerapkan prinsip-prinsip industri hijau dalam proses produksinya.

Baru-baru ini PT TPL juga meraih Proper kategori Biru dari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang artinya bahwa perusahaan telah melakukan penge­lolaan lingkungan yang Baik sesuai dengan standar yang diwajibkan pemerintah. Proper adalah Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Ling­kungan yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak 1995, untuk mendorong perusahaan meningkatkan penge­lolaan lingkungannya. (rel/nai)

Source: http://harian.analisadaily.com

Kontes Foto IFCC 2017 “Explore Indonesian Forest with IFCC”

Keindahan hutan Indonesia memiliki ciri khas dan pesona tersendiri. Menangkap fisik dan momen-momennya melalui foto adalah salah satu cara untuk mengekspresikan keindahannya. Kontes Foto IFCC berjudul “Explore Indonesian Forest with IFCC" diselenggarakan sejak tanggal 22 April 2017 (Hari Bumi) hingga 5 Juni 2017 (Hari Lingkungan Hidup Sedunia).

“Kami sangat tidak menyangka dapat menerima lebih dari 200 foto dalam kurun waktu 2 minggu setelah mempublikasikan pengumuman kontes foto ini. Berhubung ini merupakan kontes foto nasional pertama yang diselenggarakan oleh IFCC, momen ini sungguh luar biasa. Di akhir kontes, kami menerima 1500 momen indah yang dipotret oleh para fotografer Indonesia. Para juri sangat bekerja keras dalam memilih foto terbaik dari yang terbaik dan akhirnya dari seluruh foto yang kami terima, 5 foto terbaik diumumkan oleh IFCC pada tanggal 18 Juli 2017,” kata Zulfandi Lubis, Direktur Eksekutif IFCC.


Para Pemenang

Hasil karya pemenang ke-1: “Rumah Kami”

Orangutan adalah mamalia arboreal terbesar di dunia. Mereka tinggal di kanopi hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Terdaftar oleh Perhimpunan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), orangutan Sumatera (Pongo abelii) diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah.

Yohan Roy Gratia, pemenang ke-1 Kontes Foto IFCC 2017 “Explore Indonesian Forest with IFCC”, menangkap momen kehidupan orangutan di Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

“Mari kita lindungi dan lestarikan keanekaragaman dan kekayaan Indonesia,” katanya.

Yohan adalah seorang fotografer otodidak yang menyukai keindahan alam. Ia berharap bisa berkeliling Indonesia untuk untuk mengeksplorasi lebih banyak keindahan alam dengan melanjutkan semangat kerjanya dalam dunia fotografi.

 

 

 

 

 

 

 

Hasil karya pemenang ke-2: “The life is beautiful”

Pemenang ke-2, Dika Yudha Rio Pamungkas, adalah seorang fotografer lepas yang telah menekuni fotografi sejak tahun 2010. “Fotografi membuat saya beruntung untuk bisa menikmati dan mengambil foto panorama alam yang masih asri. Karena saya yakin bahwa fotografi adalah seni pengamatan, tentang menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Dalam kompetisi ini, ia mengambil momen sebuah keluarga sedang menikmati keindahan Air Terjun Jumog, di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Foto ini mengajarkan kita bagaimana secara sederhana menikmati hari dan mensyukuri hidup dan alam. Ia menyimpulkan bahwa hidup sangat indah seperti momen yang tertangkap dalam fotonya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil karya pemenang ke-3: “The harmonious co-existence between Waerebo native and the forest”

Suwandi Chandra, pemenang ke-3, adalah seorang travel fotografer profesional asal Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Perhatian dan minatnya terhadap alam dan juga kesukaannya pada travelling telah membawa dirinya berkeliling Indonesia dan juga beberapa negara lainnya. Karya fotonya pun sering dimuat di media cetak maupun online/elektronik seperti The New York Times, CNN.com, Lonely Planet, Colours Garuda Indonesia, SilkWinds SilkAir, Singapore Airlines Silverkris, Qatar Airways Oryx, Jetstar Asia.

Pada Kontes Foto IFCC 2017, Suwandi menampilkan karya fotografinya dengan membingkai pemandangan udara Desa Tradisional Waerebo yang terletak di dalam hutan di Dataran Tinggi Manggarai, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di sana, penduduk lokal masih menjalani hidup secara primitif dan menggantungkan kebutuhan hidup mereka dari hutan.

Fotonya yang berjudul “The harmonious co-existence between Waerebo native and the forest” membawa para dewan juri menganugerahkan juara ke-3 Kontes Foto IFCC 2017 padanya.

 

 

Hasil karya pemenang ke-4: “Burung Migrasi”

Mushaful Imam adalah seorang fotografer lepas yang juga bekerja sebagai wartawan.

Karyanya berjudul “Burung Migrasi” telah membawanya mendapatkan juara ke-4 pada Kontes Foto IFCC 2017. Momen burung migrasi ini diambil di Sembilang, Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Migrasi burung terjadi di atas hutan mangrove. Kawasan hutan bakau berlumpur menjadi pilihan burung karena banyaknya sumber makanan.

 

 

 

 

 

 

 

Hasil karya pemenang ke-5: “Water Bombing”

Foto ini diambil oleh Sapto Nugroho yang bekerja sebagai TNI AU. Hobinya dalam fotografi telah membawanya untuk ikut berpartisipasi dalam Kontes Foto IFCC 2017 “Explore Indonesian Forest with IFCC”. Dalam acara ini, hasil karya fotografinya yang berjudul “Water Bombing” telah dianugerahi sebagai juara ke-5. Ia mengambil fotonya di Hutan Bukit Suligi, Provinsi Riau, Indonesia.

Water bombing adalah jenis pemadam kebakaran udara dimana pemadam kebakaran menggunakan helikopter untuk memberantas kebakaran hutan. Selain itu, pengeboman air helikopter juga dilakukan untuk pemeliharaan lahan terutama pada musim kemarau.