IFCC Develops Community Forest Certification, Eyes Downstream Products

From left to right, Ben Gunneberg, chief executive and secretary general of PEFC, PEFC chairman Peter Latham, PEFC vice-chairman Sheam Satkuru Ganzella and IFCC chairman Dradjad WIbowo at a press conference in Kuta, Bali. (Photo courtesy of IFCC)

From left to right, Ben Gunneberg, chief executive and secretary general of PEFC, PEFC chairman Peter Latham, PEFC vice-chairman Sheam Satkuru Ganzella and IFCC chairman Dradjad WIbowo at a press conference in Kuta, Bali. (Photo courtesy of IFCC)

Kuta, Bali. Indonesian Forestry Certification Cooperation, or IFCC, a national governing body of the world's largest forest certification system — the Program for the Endorsement of Forest Certification or PEFC, is developing a new community forest certification scheme to improve certification rate for sustainable forestry practices in the country.

Product certification from IFCC and PEFC is voluntary but will help companies that manufacture, process, trade or sell timber or timber-based products gain access to the global market, as it guarantees that the products are responsibly sourced and traceable.

The certification scheme has 46 national governing bodies around the world.

Currently, more than 300 million hectares of forests are certified to PEFC's internationally recognized sustainability benchmarks, supplying more than 18,000 chain-of-custody-certified companies globally with responsibly sourced timber and timber-based products.

IFCC Dorong Pengelolaan Hutan Lestari

Jakarta – Produk berlabel Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) akan memberi jaminan hutan lestari dan akses pasar global ujar Ketua Umum IFCC Dradjad Hari Wibowo. Hal itu, menurut Dradjad di Bali, Rabu (16/11), karena IFCC menginisiasi sistem sertifikasi global–Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) yang merupakan sertifikat terbesar di dunia dalam pengelolaan hutan lestari.

Di hadapan Stakeholder Dialogue yang juga dihadiri Sekretaris Jendral PEFC Ben Gunnerberg itu dia mengatakan, untuk mendorong pengelolaan hutan lestari, perlu sistem sertifikasi yang memungkinkan para pihak bisa menilai kemajuan dalam pencapaiannya.

Sistem itu, tambahnya, harus dibangun secara objektif, melalui kerjasama dan kebersamaan, serta tidak melibatkan kampanye negatif dan berbagai bentuk pemaksaan dan tekanan dari satu pihak ke pihak lain.

“Karena itu, sertifikat IFCC yang diterbitkan secara independen sejak tahun 2011 terus disempurnakan dengan melibatkan stakeholder yang mempunyai komitmen tinggi dalam pengelolaan hutan yang lestari untuk menjamin fungsi ekologi dan sosial hutan dapat tetap tetap terjaga,” kata Dradjad.

IFCC Dorong Pengelolaan Hutan Lestari

Produk berlabel Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) akan memberi jaminan hutan lestari dan akses pasar global ujar Ketua Umum IFCC Dradjad Hari Wibowo.

Hal itu, menurut Dradjad di Bali, Rabu karena IFCC menginisiasi sistem sertifikasi global--Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) yang merupakan sertifikat terbesar di dunia dalam pengelolaan hutan lestari.

Di hadapan Stakeholder Dialogue yang juga dihadiri Sekretaris Jendral PEFC Ben Gunnerberg itu dia mengatakan, untuk mendorong pengelolaan hutan lestari, perlu sistem sertifikasi yang memungkinkan para pihak bisa menilai kemajuan dalam pencapaiannya.

Sistem itu, tambahnya, harus dibangun secara objektif, melalui kerjasama dan kebersamaan, serta tidak melibatkan kampanye negatif dan berbagai bentuk pemaksaan dan tekanan dari satu pihak ke pihak lain.

Hutan Rakyat Juga Akan Disertifikasi

hutan rakyat juga akan disertifikasi

 

Jakarta. Di tengah gencarnya upaya sertifikasi pada hutan industri, Organisasi Kerjasama Sertifikasi Kehutanan Indonesia (Indonesia Forestry Certification Cooperation / IFCC) juga menyiapkan sertifikasi untuk hutan rakyat.

Ketua Umum IFCC Dradjad Hari Wibowo mengatakan pihaknya terus mendorong terciptanya pengelolaan hutan lestari. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan sistem sertifikasi yang memungkinkan para pihak terlibat dalam pengelolaan hutan lestari dan ramah lingkungan.

Saat ini IFF tengah menyusun skema sertifikasi yang tidak terlalu memberkat bagi masyarakat dalam memenuhi syarat-syarat sertifikasi. "Bahkan kalau memungkinkan bisa melalui skema dimana masyarakat tidak perlu membayar," ujar Drajad, Kamis (17/11).

Menurut Drajad, masyarakat di negara-negara maju seperti Eropa, yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor kayu Indonesia sangat peduli dengan produk-produk ramah lingkungan. Oleh karena itu, dukungan sertifikat IFF atau -Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) bagi produk kehutanan dan turunannya seperti kertas atau pulp menjadi sangat penting agar bisa diterima tanpa prasangka.

SERTIFIKASI HUTAN LESTARI IFCC/PEFC

 

(Dari kanan ke kiri), Ketua Umum Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) Dradjad Hari Wibowo, 2 Vice Chairman Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) Council Board Sheam Satkuru Ganzella, Chairman PEFC Peter Latham dan Sekretaris Jenderal PEFC Ben Gunnerberg bergandeng-tangan usai konferensi pers Stakeholder Dialogue di Hotel Sheraton, Kuta Bali, Rabu (16/11). Sertifikat berlabel IFFC/PEFC saat ini sangat dikenal di pasar global karena merupakan sistem sertifikasi hutan terbesar di dunia dengan 46 negara anggota. ANTARA FOTO/HO/Sidi/ama/16

Sumber berita: amp.antarafoto.com