IFCC Dorong Pengelolaan Hutan lestari dan Akses Pasar Global

IFCC Dorong Pengelolaan Hutan lestari dan Akses Pasar Global

 

Kuta, Faktabali.com - Produk berlabel Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) akan memberi jaminan hutan lestari dan akses pasar global. Hal ini karena IFCC menginisiasi sistem sertifikasi global-Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) yang merupakan sertifikat terbesar di dunia dalam pengelolaan hutan lestari.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum IFCC Dradjad Hari Wibowo ketika membuka Stakeholder Dialogue yang berlangsung di Hotel Sheraton, Kuta, Rabu (16/11/2016).

Kegiatan yang akan berlangsung hingga, Jumat (18/11/2016) ini juga dihadiri Sekretaris Jendral PEFC Ben Gunnerberg, Sheam Satkuru dan Chairman PEFC terpilih Pieter Latham.

Menurut Dradjad, untuk mendorong pengelolaan hutan lestari, perlu sistem sertifikasi yang memungkinkan para pihak bisa menilai kemajuan dalam pencapaiannya. Sistem itu harus dibangun secara objektif, melalui kerjasama dan kebersamaan, serta tidak melibatkan kampanye negatif  dan berbagai bentuk pemaksaan dan tekanan dari satu pihak ke pihak lain.

1,8 Juta Hektare Hutan Indonesia Tersertifikasi PEFC

Kuta (Antara Bali) - Aliansi internasional sertifikasi hutan (PEFC) menyatakan bahwa sebanyak 1,8 juta hektare hutan di Indonesia sudah mendapatkan sertifikat yang menandakan bahwa produk hutan tersebut berasal dari pengelolaan yang berkelanjutan.

"Sertifikasi itu sifatnya sukarela bukan wajib," kata Kepala Proyek dan Pengembangan Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) Sarah Price saat menjadi pembicara dalam lokakarya jurnalis terkait "Pendekatan Bentang Alam" di Kuta, Kabupaten Badung, Selasa.

Konsultan Perkumpulan Kerja Sama Sertifikasi Kehutanan Indonesia/Indonesia Forestry Certification Cooperative (IFCC) Nurcahyo Adi menambahkan bahwa luas hutan 1,8 juta hektare tersebut dikelola oleh dua perusahaan di Riau.

Luas lahan Indonesia, kata dia, berdasarkan statistik mencapai sekitar 120 juta hektare, seluas 60 juta hektare di antaranya merupakan hutan produksi.

"Dari 60 juta hektare luas hutan itu, seluas 30 juta hektare di antaranya rusak," imbuhnya.

PEFC Week in Bali – Thailand joins PEFC

The Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) held its annual PEFC Forest Certification Week meeting in Bali, Indonesia themed ‘Sustainable Landscapes for Sustainable Livelihoods’, which saw a very positive 21st PEFC General Assembly for members, a series of workshops and two days of Stakeholder Dialogue open to all. The good news for the future of PEFC in Asia was the unanimous adoption of three more countries, including Thailand, bringing the number of National Governing Bodies to 46. The event was co-hosted by the Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC).

Ben Gunneberg (centre) with Thai delegation after election (Source: Turnstone Singapore)


Speaking at the PEFC General Assembly, PEFC Secretary General and CEO Ben Gunneberg said “This year saw our members smash through past records for growing PEFC-certified hectares. In Australia alone, more than 16 million hectares of forest became PEFC-certified – an achievement that won the Australian Forestry Standard (AFS) the top prize for growth during our PEFC award ceremony. What is really interesting is their motivation to gain PEFC certification – to demonstrate responsible land management to society, not simply the ability to produce certified wood for the market. This shows the great flexibility and multi-faceted nature of the PEFC system to be able to deliver such outcomes.”

Sertifikasi Lestari Harus Berorientasi Global

Foto ilustrasi hutan/lahan: bumn.go.id

JAKARTA - Sertifikasi hutan lestari harus memenuhi standar global dalam hal pengelolaan lestari dan keberlanjutan, namun tetap memiliki kekhasan Indonesia. Saat ini, penyematan label lestari memberi banyak kemudahan bagi kalangan industri untuk bersaing di pasar mancanegara.

Sekretariat Nasional Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Agus Setyarso mengatakan, pemerintah menetapkan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK ) sebagai sertifikasi wajib bagi setiap produsen. Label SVLK menjadi jaminan bahwa setiap produk kayu ekspor telah sesuai dengan hukum hutan di Indonesia dan memenuhi tuntutan pasar global dalam hal kelestarian.

Sertifikasi sukarela seperti Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) yang memiliki kekhasan Indonesia juga menjadi penting karena pasar global meminta.

“Di banyak negara terutama yang sensitif dengan isu lingkungan permintaan terhadap produk berlabel IFCC yang diinisiasi Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) terus meningkat. Produk berlabel lestari yang diterbitkan penilai independen dunia kini menjadi bagian penting dari permintaan pasar,” kata Agus di Jakarta, Kamis (24/11).

Sertifikasi Lestari Harus Berorientasi Global

ilustrasi

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta - Sertifikasi hutan lestari harus memenuhi standar global dalam hal pengelolaan lestari dan keberlanjutan, namun tetap memiliki kekhasan Indonesia. Saat ini, penyematan label lestari memberi banyak kemudahan bagi kalangan industri untuk bersaing di pasar mancanegara.

Sekretariat Nasional Pembangunan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Agus Setyarso mengatakan, pemerintah menetapkan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK ) sebagai sertifikasi wajib   bagi setiap produsen. Label SVLK menjadi jaminan bahwa setiap produk kayu ekspor telah sesuai dengan hukum hutan di Indonesia  dan memenuhi tuntutan pasar global dalam hal kelestarian.  

Sertifikasi sukarela seperti Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) yang memiliki kekhasan Indonesia juga menjadi penting karena pasar global meminta.

“Di banyak negara terutama yang sensitif dengan isu lingkungan permintaan terhadap produk  berlabel IFCC yang diinisiasi Programme for the Endorsement of Forest Certification (PEFC) terus meningkat. Produk berlabel lestari yang diterbitkan penilai independen  dunia kini menjadi bagian penting dari permintaan pasar,” kata Agus di Jakarta, Kamis (24/11/2016).